Bahaya HOAX dan Cara Menghadapinya

Bahaya HOAX dan Cara Menghadapinya

Sekarang hoax bukan lagi dianggap berbahaya bagi beberapa kalangan. Tetapi hoax lebih dianggap kebohongan yang bersifat candaan, padahal hoax yang telah disebarluaskan melalui media dapat mempengaruhi pembacanya. Selain itu, hoax juga dapat merugikan beberapa pihak. Sebenarnya apa itu hoax dan bagaimana cara menghadapi suatu pemberitaan agar terhindar dari bahaya hoax? Simak selengkapnya.


Hoax memiliki sinonim berita bohong. Menurut Oxford DictionaryHoax” berarti “A humorous or malicious deception.” Nah jika diartikan Humorous berarti candaan/lucu, Malicious berarti jahat, dan Deception berarti penipuan/tipuan. Jika disimpulkan berarti bermakna Candaan atau penipuan yang jahat, bisa juga berarti bahan candaan atau penipuan yang bertujuan jahat. Intinya, hoax berarti merupakan penipuan yang memiliki unsur candaan maupun kejahatan. Tetapi saat ini masih ada juga yang mempersepsikan hoax sebagai candaan atau gurauan. Padahal telah sering diberitakan bahwa hoax itu dapat berbahaya bagi si penerima dan merugikan beberapa pihak.

Sebenarnya bagaimana awalnya terjadi hoax di dunia? Menurut salah satu referensi inilah sejarah hoax dari masa ke masa :

Sejarah Awal

Awal mula hoax bisa ditelusuri bahkan sebelum 1600-an. Kebanyakan informasi pada era tersebut disebarkan tanpa komentar. Pembaca bebas menentukan validitas informasi berdasarkan pemahaman, kepercayaan/agama, maupun penemuan ilmiah terbaru saat itu.

Kebanyakan hoax pada era tersebut terbentuk karena spekulasi. Misalnya saja, saat Benjamin Franklin pada 17 Oktober 1745 via Pennsylvania Gazette melansir tentang batuan China yang bisa digunakan untuk mengobati rabies, kanker, dan penyakit mematikan lain.

Bagaimanapun, verifikasi informasi itu hanya didasari oleh testimoni personal. Satu pekan kemudian, sebuah surat klarifikasi di Gazette mengklaim bahwa batuan tersebut ternyata terbuat dari tanduk rusa dan tidak memiliki kemampuan medis apapun.

Pada 1726,  penulis Jonathan Swift menggunakan strategi hoax untuk menerbitkan cerita berjudul Travels Into Several Remote Nations of the World. Sebelumnya, pada 1708, dia juga menggunakan hoax tidak berbahaya berisi prediksi astrologi pada 1 April, yang kini dikenal sebagai April Fools’ Day.

Pada 1835, penulis Edgar Allan Poe menerbitkan cerita hoax terkenal; The Unparalled Adventure of One Hans P faall tentang pria yang pergi ke bulan menggunakan balon udara dan tinggal disana selama 5 tahun.

 

Permulaan Abad XIX

Perkembangan hoax semakin pesat pada pertengahan pertama abad XIX. Seiring dengan itu, jumlah komunitas sains semakin melesat di Amerika Serikat, dan banyak dari mereka yang menerbitkan penemuan hoax yang menggemparkan.

Salah satu hoax yang paling menggemparkan saat itu adalah The Great Moon Hoax yang dilansir pada 1835 di The Sun, New York. Reporter The Sun menduga bahwa peneliti John Herschel menemukan manusia bersayap setinggi 4 kaki di bulan.

Cerita tersebut lama-kelamaan dipercaya publik sebagai sebuah kebenaran. Apalagi, John adalah putra dari peneliti penemu planet Uranus, William Herschel. Setelah hoax itu terbongkar, publik menuntut pemilik The Sun, Benjamin Day.

Pada 1860-an, P.T. Barnum membuat hoax berjudul What Is It?, yang diklaim menjawab misteri teori Charles Darwin tentang evolusi primata menjadi manusia. Ironisnya, hoax tersebut digunakan sebagai senjata politik saat era pemilihan presiden Abraham Lincoln.

Pada 1869, muncul berita hoax yang paling menggemparkan sepanjang sejarah media cetak, yaitu penampakan manusia raksasa setinggi 10 kaki (Cardiff Giant) di New York. Rupanya, raksasa tersebut adalah buatan ahli tembakau George Hull.

Pada 1874, James Gordon Bennett Jr. Membuat cerita hoax di New York Herald tentang binatang buas yang kabur dari kebun binatang dan membunuh 49 orang. Akibat hoax tersebut, terjadi kekacauan dan kepanikan publik yang hebat.

 

Abad XX dan Seterusnya

Pada abad ke-XX, berita hoax lebih banyak disebarkan melalui jalur siaran ketimbang media cetak. Hal itu terjadi seiring dengan perkembangan media massa, yang mengharuskan penayangan berita secepat mungkin. Akibatnya, banyak media massa yang tidak mengklarifikasi informasi terlebih dahulu sebelum menyebarluaskannya.

Salah satu hoax yang paling terkenal pada abad XX adalah siaran stasiun televisi ABC dan USA Today yang mengklaim bahwa Rusia berencana menjual jenazah Vladimir Lenin untuk mendongkrak penerimaan negara.

 

Berdasarkan cerita diatas, kita dapat mempelajari mengenai sejarah hoax bukan menjadi penyebar hoax. Di Indonesia, hoax sudah sangat sering terjadi. Seperti saat ini, menjelang pemilu persentase hoax naik hingga 100 persen.


Ketua Dewan Pers Yosep Stanley Adi Prasetyo mengatakan, pelaporan soal berita bohong atau hoaks meningkat hingga 100 persen pada Pilpres yang akan berlangsung 17 April 2019 mendatang.

Menurut dia, kenaikan hoaks itu berlangsung drastis selama Pemilu serentak 2019 ini ketimbang pada hari biasanya.

Stanley menilai, hoaks tersebut cenderung meningkat saat adanya pesta demokrasi. Sepanjang 2018, total hoaks yang dilaporkan ke Dewan Pers mencapai sekitar 400-an pengaduan. Sedangkan, hingga awal April ini, Dewan Pers sudah menerima sekitar 300-an pengaduan hoaks.

Pada 2019 ini, hoaks menyerang kepada masing-masing pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. "Hoaks menimpa kedua belah pihak" ucap dia.

Pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) itu menerangkan bahwa perlu adanya peran serta semua pihak untuk mengatasi persiapan hoaks tersebut. Pasalnya, hoaks sangat berbahaya dan merugikan bagi demokrasi Indonesia. Stanley melanjutkan bahwa hoaks juga dapat menimbulkan ketidakpercayaan antar masyarakat maupun kementerian dan lembaga negara.

Menanggapi hal ini, kita harus bisa berpikir kritis dan logis atas pemberitaan yang didapat baik itu dari media manapun. Berdasarkan salah satu sumber, berikut adalah  cara menghadapi pemberitaan :

1. Kembangkan rasa penasaranmu setiap saat, jangan langsung menyebarkan suatu berita tanpa mengecek kebenarannya

2. Berhati-hatilah dengan judul yang provokatif

3. Cari tahu keaslian alamat situs laman

4. Perhatian keaslian foto

5. Periksa keaslian berita dengan mencari tahu asal sumbernya

6. Ikut serta dalam grup diskusi antihoax di media sosial

7. Segera adukan kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika apabila menemukan berita hoax

 

Dengan menjadi pembaca yang cerdas, kita akan dapat memilah pemberitaan dengan baik. Jangan menyerap dan menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Jika anda mendapatkan pemberitaan hoax ataupun konten negatif segera lakukan hal berikut ini.

Pengguna bisa melakukan screen capture disertai url link, kemudian mengirimkan data ke [email protected] Kiriman aduan segera diproses setelah melalui verifikasi. Kerahasiaan pelapor dijamin dan aduan konten dapat dilihat di laman web trustpositif.kominfo.go.id. Laporan database Trust+Positif sampai dengan 2016 mencatat konten negatif yang diblokir sebesar 773.339. Masyarakat juga dihimbau untuk memperhatikan konten yang tergolong konten negatif antara lain, pornografi, SARA, penipuan atau perdagangan ilegal, narkoba, perjudian dan radikalisme. Selain itu, informasi yang diungkap akun Twitter Indonesia Baik ‏@GPRindonesia juga menyebut konten yang termasuk konten negatif seperti kekerasan, kekerasan anak, malware dan phising serta pelanggaran kekayaan intelektual.

Ayo perangi hoax. Selalu dukung gerakan antihoax dan juga saling mengingatkan satu sama lain. Jadilah pembaca yang cerdas, tidak hanya menerima tetapi dapat menyortir pemberitaan yang diterima. Jika terdeteksi hoax, jangan ragu-ragu untuk melaporkan ke pihak yang berwenang.


 

Sumber :

https://ekonomi.bisnis.com/read/20170114/105/619451/ini-sejarah-hoax-dari-masa-ke-masa

https://news.okezone.com/read/2019/04/08/337/2040749/ketua-dewan-pers-hoaks-meningkat-100-persen-selama-pilpres-2019

https://en.oxforddictionaries.com/definition/hoax

https://www.idntimes.com/science/discovery/viktor-yudha/cara-efektif-mencegah-berita-hoax-tersebar/full

https://kominfo.go.id/content/detail/8732/ini-cara-melaporkan-konten-hoax/0/sorotan_media