Bahaya Toxic Player Dunia Gaming

Bahaya Toxic Player Dunia Gaming

Sumber : gamebrott

Dunia gaming selalu ramai diperbincangkan bagi kalangan muda. Tidak hanya sebagai kegiatan pengisi waktu luang, gaming saat ini juga menjadi ajang perlombaan, unjuk bakat, dan kekompakan. Dapat dilihat pada berbagai daerah, saat ini mengadakan perlombaan main bareng atau mabar pada beberapa jenis game seperti Free Fire dan yang lainnya.

Banyaknya ajang perlombaan ini membuat para gamers yang biasanya hanya bermain via online, bahkan mengadakan meet up antar pemain dan akhirnya membuat komunitasnya sendiri. Tetapi tidak hanya berlanjut dengan kesenangan, ternyata dunia pergamingan juga mengalami beberapa hal yang tidak pantas. Biasanya hal yang negatif ini bisa dalam bentuk bully, perkataan kotor yang biasanya dilakukan para toxic player. Jika kita lihat, kata Toxic yang berarti racun, berarti menyebabkan racun pada permainan itu sehingga menciptakan penyakit hati dan suasana yang tidak asik lagi.

Jadi, Toxic Player adalah Pemain yang melakukan perilaku negatif, baik dalam permainan maupun komunitas seperti chat grup dan forum. Perilaku negatif ini bisa bermacam-macam, dari yang benar-benar mengeluarkan kata-kata kotor, menyinggung, ataupun memojokkan, hingga hanya sekedar membuat permainan menjadi tidak menyenangkan.

Ada lima tipe sifat toxic yang sering dilakukan oleh pemain MOBA games

  1. flaming, yaitu mengirim chat yang bersifat ofensif;

  2. griefing, yaitu membuat pemain lain kesal dengan sengaja;

  3. cheating, yaitu menggunakan perangkat lunak secara ilegal demi keuntungan pribadi;

  4. scamming, yaitu menipu transaksi barang dalam game demi keuntungan pribadi; dan

  5. cyberbullying, yaitu mengganggu pemain lain secara berulang-ulang.\

Sumber Gambar : Fahrinheit

Para peneliti dari Universitas California-Davis (UC Davis) mengkonfirmasi hal itu dengan meneliti ratusan juta pesan dalam chat-room game. Pesan yang diteliti itu ada yang berupa pesan positif juga, tapi pesan negatif lebih berdampak buruk bagi semua orang.

"Tidak hanya bahwa chat negatif ini akan terus hidup, tapi juga ia dapat memberi efek lebih lama bagi para pengirim pesan tersebut. Orang-orang negatif (toxic) pada dasarnya menyakiti dirinya sendiri," kata Seth Frey, ketua penelitian tersebut yang dilansir blognya dalam situs resmi UC Davis

Sedangkan untuk melihat efek pesan negatif, peneliti juga memperluas efeknya terhadap pengirim pesan itu sendiri. Efeknya lebih dahsyat dan lebih lama dari chat positif karena ia akan menghasilkan lingkaran respons buruk yang terus menerus diulang antara para pemain. 

Mungkin kamu berani menebarkan toxic ketika main game karena dalam kondisi anonim. Menurut Frey, temuan ini juga bisa diterapkan pada platform lain seperti Facebook dan Twitter di mana partisipannya lebih kompleks secara usia maupun emosinya.

Penelitian lain oleh, Suler (2004), online disinhibition effect adalah perilaku tertentu yang hanya diperlihatkan seseorang di dunia maya dan tidak diperlihatkan di dunia nyata.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lapidot-Lefler dan Barak (2012), kurangnya kontak mata dengan orang lain juga merupakan faktor terbesar seseorang melakukan flaming.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat kita lihat bahwa tindakan toxic dapat berpengaruh pada diri sendiri dan orang yang dituju. Maka dari itu, bermainlah dengan sportif dan jalin persahabatan tanpa ada toxic dalam permainan itu.

 

Sumber :

https://liputangame.com/apa-itu-toxic-player/

https://kumparan.com/@millennial/perilaku-toxic-di-game-dan-media-sosial-bisa-menyakiti-diri-sendiri-1543209772542344624

https://www.idntimes.com/health/fitness/arifa-h/5-penjelasan-ilmiah-mengenai-kelakuan-toxic-para-pemain-moba-c1c2/full