Lebih Mengenal Revolusi Industri 4.0

Lebih Mengenal Revolusi Industri 4.0

Revolusi Industri 4.0 semakin hangat dan telah menjadi trending topik di Indonesia. Hal ini disebabkan karena revolusi industri 4.0 ini dapat menggantikan pekerjaan manusia dengan robot. Untuk menghadapi hal ini sektor manufaktur nasional harus siap menuju perubahan besar dalam menghadapi revolusi industri keempat atau Industry 4.0. Konsekuensinya, pendekatan dan kemampuan baru diperlukan untuk membangun sistem produksi yang inovatif dan berkelanjutan.

Lalu apakah itu revolusi Industri  4.0?

 

Istilah "Industrie 4.0" berasal dari sebuah proyek dalam strategi teknologi canggih pemerintah Jerman yang mengutamakan komputerisasi pabrik. Istilah "Industrie 4.0" diangkat kembali di Hannover Fair tahun 2011. Pada Oktober 2012, Working Group on Industry 4.0 memaparkan rekomendasi pelaksanaan Industri 4.0 kepada pemerintah federal Jerman.

Dikutip dari Wikipedia, revolusi industri 4.0 memiliki empat prinsip yang memungkinkan setiap perusahaan untuk mengidentifikasi dan mengimplementasikan berbagai skenario industri 4.0, diantaranya adalah:

  1. Interoperabilitas (kesesuaian); kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan manusia untuk terhubung dan saling berkomunikasi satu sama lain melalui media internet untuk segalanya (IoT) atau internet untuk khalayak (IoT).

  2. Transparansi Informasi; kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan dunia fisik secara virtual dengan memperkaya model pabrik digital dengan data sensor.

  3. Bantuan Teknis; pertama kemampuan sistem bantuan untuk membantu manusia mengumpulkan data dan membuat visualisasi agar dapat membuat keputusan yang bijak. Kedua, kemampuan sistem siber-fisik untuk membantu manusia melakukan berbagai tugas yang berat, tidak menyenangkan, atau tidak aman bagi manusia.

  4. Keputusan Mandiri; kemampuan sistem siber-fisik untuk membuat keputusan dan melakukan tugas semandiri mungkin.

Revolusi industri 4.0 akan membawa banyak perubahan dengan segala konsekuensinya, industri akan semakin kompak dan efisien. Namun ada pula risiko yang mungkin muncul, misalnya berkurangnya Sumber Daya Manusia karena digantikan oleh mesin atau robot.

Perkembangan revolusi industri 4.0 ini tentunya memiliki dampak positif dan negatif dari beberapa aspek kehidupan. Salah satu keuntungan penerapan model Industri 4.0 bisa lebih banyak daripada keprihatinan yang timbul. Ini berlaku untuk banyak fasilitas produksi. Di lingkungan kerja yang sangat berbahaya, kesehatan dan keselamatan manusia (pekerja) bisa ditingkatkan secara dramatis. Rantai pasokan bisa lebih siap dikendalikan ketika tersedia data di setiap jenjang pemanufakturan dan proses pengantaran. Komputer yang menjadi “kontrol” bisa menghasilkan produksi yang lebih dipercaya dan konsisten. Selain itu, hasil untuk banyak bisnis bisa meningkatkan pendapatan, pangsa pasar, dan keuntungan.

Guru Besar Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia Yandi Andri Yatmo mengatakan hal itu saat berbincang dengan Kompas.com, di Jakarta, Sabtu (30/3/2019). “Pada akhirnya teknologi itu digunakan untuk menjaga resource yang ada, bukan menghabiskannya. Artinya, resource yang berasal dari alam,” ujar Yandi. Menurut dia, era revolusi industri 4.0 saat ini membuat desain bangunan menjadi lebih responsif terhadap penggunanya dan perubahan alam yang terjadi.

Disamping adanya perkembangan terhadap inovasi dan teknologi, revolusi industri 4.0 ini juga memiliki dampak negatif yang akan dikhawatirkan dapat terjadi di Indonesia. Beberapa dampak negatif yang dikhawatirkan dan telah terjadi dibeberapa negara adalah :

1.       Para Pekerja akan digantikan dengan robot.

Sejak Mei 2016 Foxconn memperkenalkan 40.000 robot. Hal ini telah mengurangi 110.000 pekerja menjadi 50.000.

2.       Toko ritel tidak lagi membutuhkan manusia.

Di Amerika Serikat, Wallmart menggunakan keranjang swakemudi pribadi “Dash” yang dapat memandu pelanggan saat mereka meminta produk ke Dash. Wallmart berencana mengganti total 1,4 juta staff di AS dan diseluruh dunia 2,1 juta staf

3.       Asisten dan wartawan akan digantikan oleh robot Al.

Perusahaan IT memperkenalkan asisten pengenalan suara Al : Apple Siri, Amazon Alexa, Microsoft Cortana, Asisten Google dan Facebook. Selama 2001-2013, 163.000 pekerjaan asisten hilang di Inggris. Serta masih banyak lagi dampak yang lainnya.
 

Untuk menghadapi kekhawatiran yang mungkin akan terjadi di Indonesia, Kementerian Perindustrian telah menyiapkan beberapa strategi untuk meningkatkan daya saing Indonesia di era Industri 4.0. Staf Ahli Menteri Bidang Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri Kementerian Perindustrian, Imam Haryono mengatakan, salah satu strategi yang disiapkan adalah melalui program Making Indonesia 4.0. "Making Indonesia sebagai salah satu agenda pembangunan nasional untuk mempercepat pencapaian aspirasi menjadi negara 10 ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030," ujar Imam di Jakarta, Kamis (31/1/2019). Selanjutnya, kata Imam, pihaknya akan melakukan penguatan vokasi menuju dual system, pembangunan Poltek/Akom di kawasan industri, link and match, 3 in 1, sertifikat kompetensi tenaga kerja industri, serta pengembangan SDM.

Jadi, revolusi industri 4.0 merupakan revolusi yang diperkenalkan oleh Jerman. Agar kita terhindar dari dampak negatif revolusi ini, perlu bagi setiap individu menggali kreativitas dan mengembangkan inovasinya untuk menjadi pribadi yang siap menghadapi revolusi yang terjadi di dunia.

So, Are you ready for industri 4.0 ?

 

Sumber :

Google images

https://id.wikipedia.org/wiki/Industri_4.0

https://www.maxmanroe.com/revolusi-industri-4-0.html

https://properti.kompas.com/read/2019/03/30/183000021/industri-4.0-mendorong-sektor-konstruksi-lebih-efisien

https://ekonomi.kompas.com/read/2019/01/31/141257626/ini-strategi-kemenperin-agar-ri-bisa-bersaing-di-era-industri-40

https://puspiptek.ristekdikti.go.id/wp-content/uploads/2018/10/revolusi-industri-4.0_PIF-2018_2018-1.pdf